31st JGTC my experience

Seperti dua tahun sebelumnya, tahun ini saya kembali ke ajang festival jazz tertua di dunia. Tahun ini panitianya lebih bagus masalah konsep lokasi. Jangan resah..lokasi masih di FE UI, Depok. Namun lokasi diperluas. Contoh, pintu masuk di pindahkan bukan tepat di depan FE UI, tapi di jalan menuju FE UI kurang lebih 100m. Trus bazar di pindahkan ke jalan tersebut, yang tadinya di dalam. Area juga diperluas sehingga menjadi lebih lapang. Stage yang sebelum-sebelumnya cuma 2 sekarang berjumlah 3. Kemajuan yang sangat baik menurut saya..tapi sepertinya saya hanya melihat perubahan yang sangat drastis di konsep lokasi. Yah,,walaupun musisi nya juga bagus-bagus, tapi kurang bervariasi. Tetep seru.

Nah sekarang, cerita tentang saya disana yah.

Berangkat bareng 2 temen saya, Amiria Adi Paramita biasa dipanggil Mita dan Rizqa si Bolang. Naik angkot dan melewati jalan tikus kota Depok. Naik ojek. Dan sampai lah kami ke gigs. Sampe kira-kira jam 11an, kita langsung masuk, liat-liat sebentar. Setelah itu Mita menyarankan untuk makan. “Klo sekarang makannya masih agak sepi” katanya. Disana kami bertemu Radit dan 2 temennya, Cipa dan Astia. Kita makan, saya dan Rizqa makan sate ayam+lontong yang kata abangnya “nampol abis neng satenya’. Dan ternyata itu benar, satenya besar-besar sesuai harganya yang cukup mahal untuk kantong pelajar. Mita makan crepe, Radit ga makan, katanya “biar irit”. Padahal daritadi dia kebelet mau beli sepatu yang dilukis, namun akhirnya ga jadi beli. Karena ga ada ukuran yang pas. Cukup tragis.

After that, pukul 12 tak terasa. Kembali Mita yang menurut saya saat itu sangat cocok menjadi seorang konsultan/penasehat. Kembali memberikan saran kepada saya “Sar, kayaknya lw sholat dulu deh, biar nonton nya bisa lama” katanya. Karena si Mita dan Rizqa lagi ga sholat. Jadi yang sholat cuma saya, Radit, dan Astia. Dan setelah sholat, kita langsung menghambur berbaur bersama penikmat musik jazz lainnya.  Setelah selesai, kami istirahat dan pindah ke stage B. Stage terkecil di gigs itu. Tapi lagunya enak-enak semua dan hampir semua orang tahu lagu-lagunya. Kami duduk diatas rumput, nonton bareng. “Pemandangan menarik” jelas Rizqa sambil melirik kan matanya ke arah gitaris band Sekapur sirih. “Hahaha” balas saya. Saya mencari dimana Mita, ternyata dia lagi motret-motret band nya. Eh pas dikasih liat hasilnya, sang gitaris lah yang menjadi objek. Ga jauh-jauh deh, setipe otaknya.

Kita menuju stage C, saat itu ada Waditra Ganesha big band dari ITB. Saya sangat menantikan penampilan mereka. Tapi terlambat, saat saya tiba udah lagu terakhir. Setelah itu ada twentyfirstnight. Band baru yang di gawangi oleh salah satu personil maliq& d’essential ini cukup bagus di awal karirnya. Musik jazz mereka lebih easylistening dan ditambah dengan kerupawanan para personilnya. Cukup membantu. Kami semua terpukau dan Rizqa sampai lupa diri, Lompat-lompat…follow the beat.

Tak terasa, kaki yang sakit ini bertambah sakit. Saya sudah mulai panik, takut reumatiknya kambuh. Akhirnya kami memutuskan pindah ke stage A saat itu lagi diisi oleh Bibus, Ari, dan Gruvi. Saya memutuskan untuk duduk saja dan ga nonton karena kaki saya udah mulai sakit. Mita nemenin saya, ngobrol-ngobrol sambil kipas-kipas. Eh pas si Bibus nyanyi si Mita histeris “Wah ini kan lagu yang sering gw dengerin Sar” Mita panik. “Iya, lw pernah liat mukanya ga?” Tanya saya. “Blon” Jawab Mita santai. Dan hal tersebut kembali terulang saat si Mita mendengarkan lagunya Ari. “Dasar Mita nonton nya Indovision terus sih, cinta Indonesia donk !” Ejek Rizqa. Tiba-tiba kaki saya sembuh, setelah di paksa untuk terus ditekuk. Pas juga selesai, si Rizqa juga udah kumpul lagi.

Kita balik lagi ke stage C, langsung nyelap-nyelip kayak upil. Kita udah muka tembok banget, sampai orang-orang menatap sinis. Cuma saya yang menyadarinya, si Mita dan Rizqa bablas maning. Akhirnya dengan segala kepedeean kita dapet posisi wuenak tepat di depan panggung. Terperangah dengan penampilan Sadahulung Big Band dari UNPAD. Tapi sayang cuma sebentar, namun terbayar oleh musisi sesudahnya yaitu Lica Cecato dari Brazil. Bagus. Featuring Idang Rasjidi keren banget.

Dan saat itu bener-bener mendung. Dan usai sudah pertunjukan Lica Cecato semua penonton terguyur hujan yang sangat deras. Semua ricuh tapi tetep bertahan karena setlah ini ada Ireng Maulana JakJazzAllStars feat. Afgan, Ermy kulit, Didiek SSS. Saya udah mau balik tapi ga bisa karena penonton dibelakang saya malah nahan diri diguyur hujan. saya pikir “waduh, ga bisa kayak gini”. Tapi nyatanya saya bertahan disana untuk beberapa jam beratap payung dan terpal yang digelar dari atas panggung. Berdesak-desak kan, saya sangat benci bagian ini. Saya duduk diatas besi rangka kubus dengan lebar 5cm. Karena saya sudah tidak tahan, tapi masih dikelilingi oleh manusia.

Akhirnya ketika hujan tinggal rintik-rintik, saya menaruh payung saya diatas sound system di samping saya. Di tinggal beberapa menit dari penjagaan saya, payung itu lenyap. “Sadis” seperti lagu Afgan, di tengah saksi ratusan ato ribuan manusia ini masih aja ga tau malu untuk nyolong. Saya pasrah, namun ketika hujan kembali sedikit lebat tiba-tiba di belakang sound system mucul payung bunga=bunga warna biru. Dan itu milik saya, saya berteriak “woy, itu payung gw balikin”. Akhirnya orang tersebut ngebalikin sambil cengegesan. Ga tau malu juga ternyata.

Panggung sudah mulai disiapkan lagi, pukul 17.30 kurang lebih. Saya cukup panik “bagaimana nanti mau sholat maghrib?”. Beneran pas mulai manggung lagi jam 18.00 dan saya ga bisa sholat. Saya stres didepan panggung dan menangis. Padahal posisi saya OK banget. Tapi saya ga peduli saya harus sholat. Inget-inget saat itu saya jadi teringat lagunya Eric Clapton yang berjudul “Tears in heaven” dan Michael Frank “Tiger in the rain”. klo digabungin jadi “Tears in the rain” saya banget tuh hix. Akhirnya dnegan kenekatan saya, saya masuk ke backstage dan bertemu para kru yang asyik tidur. Saya bilang sama Mita “Udah lewat aj, bisa kok”. Mita dan Rizqa pun mengikuti. Saya bertanya sama panitia dimana jalan ke mushola. Dan si panitia bilang “lewat sini kak, lurus terussss, bisa kok” mencoba meyakinkan saya. Yang sekarang tampangnya sudah sangat bete  dan bertanya berkali-kali “bisa lewat sini mas?”.

Alhasil saya udah selesai sholat, tak lama Rizqa udah di jemput ortu nya. Saya dan Mita masih menunggu ortunya Mita. Kita pulang jam 19.30 kurang lebih sampai rumah jam 20.30. Hari yang sangat melelahkan tapi penuh pengalaman. I wann say thank you to Rizqa and Mita, karena kalian rela meninggalkan Afgan demi mengantar saya sholat. Semoga kebaikan kalian di balas Allah swt.Aminn

~ oleh punyamaisarah pada November 24, 2008.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.